"Nduk, kalau tahun depan aku trip ke Lasem, nanti ijin mampir ke rumah keluarga nduk ya"
Seperti itulah janji yang saya buat pada nduk satu ini, seorang yang teramat baik, santun dan kebaikannya tertuang pada keindahan Lasem, Rembang. Ya, waktu ternyata memanggil lebih cepat untuk berkunjung ke Lasem karena saya perlu berkunjung ke rumah nduk yang berada di Rembang. Tulisan ini kupersembahkan untukmu ya nduk, seperti pelukku selalu untukmu... 💕
,,,,,,,
Pagi itu, diawali dengan berjalan jinjit-jinjit yang awalnya menghindari sarapan karena saya menginginkan sarapan di pasar, namun tak terlaksana pula karena ibu pemilik penginapan sudah menyiapkan sarapan saya. Nasi goreng dan teh hangat rumahan, cukup menjadi energi menuju destinasi pertama, seperti sarapan di rumah sendiri dan diberi wejangan oleh sang ibu. 1 KM saya berjalan ke destinasi pertama dengan hanya berbekal tas mini serta tote bag untuk berbelanja, dan sepanjang jalan tersebut sudah terlihat jelas destinasi yang saya tuju, ya,,, rel kereta api yang masih ada namun saat ini berfungsi layaknya pedestrian. Dengan mengikuti jalur tersebut, sejenak petunjuk maps online pun saya sisihkan. Eks.Stasiun Rembang adalah destinasi tersebut, yang mana didirikan sekitar tahun 1900 dan aktif sampai dengan tahun 1985. Terdapat sebuah ruangan tertutup disana yang kemungkinan adalah kantor pelayanan stasiun, sedangkan area outdoor beratap adalah ruang tunggu yang saat ini dipergunakan sebagai kios-kios pedagang kecil. Tatkala saya sampai disana, terdapat warung makan yang sedang menata dapurnya dan saya menyempatkan menyruput teh hangat serta bercakap-cakap dengan pemilik warung. Sebuah pertanyaan kepada si ibu akhirnya terjawab dengan langkah saya menuju titik tengah area Eks.Stasiun Rembang. Sebuah tuas sinyal mekanik kereta api masih tertambat disana seolah enggan untuk ditinggalkan. Di area Eks Stasiun Rembang terdapat beberapa bangunan lawas pula namun, saya kurang tahu mengenai fungsi lamanya. Berbekal hangatnya perut akan teh hangat dan keindahan Eks Stasiun Rembang, saya menuju Pasar Rembang untuk mencari salah satu kudapan yang sudah saya dambakan.
Urap Latoh dan Dumbek adalah makanan tersebut. Urap latoh sendiri merupakan makanan yang terbuat dari bahan baku "latoh" salah satu jenis dari rumput laut yang ada di Laut Jawa khususnya Lasem, Rembang atau kadang disebut anggur laut. Sedangkan Dumbek adalah jajanan tradisional khas Jawa terutama Rembang dan Tuban, berupa kue manis-gurih yang terbuat dari tepung beras, santan dan gula merah/pasir yang dimasak lalu dibungkus kerucut daun lontar (siwalan), teksturnya kenyal lembut, atau masyarakat Jawa Timur menyebutnya Clorot. Namun,, saya belum berjodoh karena latoh sedang tidak musim dalam seminggu terakhir sehingga, bakawan ikan seruyuk (teri basah) menjadi pengobat lelah di pagi itu. Menyisir pasar tradisional tersebut, saya mencari-cari Dumbek namun tidak ada pula dan hasrat ini terlampiaskan dengan jajanan manis dari jagung yang dibungkus dengan daun pisang atau istilahnya lepet jagung. Berbekal dengan jajanan dan makanan khas lainnya pula, tote bag ini penuh juga untuk "gawan" berkunjung ke rumah nduk yang sedari berangkat sudah direncanakan. 30 menit perjalanan tidak terasa dengan pemandangan yang berupa hamparan rumah-rumah khas Tionghoa, dan salah satu yang menarik adalah sebuah bangunan dengan atap ekor walet nan indah dan luas serta terawa, yang akhir-akhir ini saya ketahui adalah Museum Liem Heritage. Kelak, jika ada waktu untuk bersua ke Rembang, saya akan usahakan berkunjung kesana.
Hamparan tambak di kanan dan kiri jalur Pantura mendominasi pandangan perjalanan saya yang saat itu tambak bandeng sedang mendominasi, jika musim kemarau tiba maka akan beralih fungsi menjadi tambak garam dan tatkala masuk ke jalanan desa maka, pandangan ini teralihkan pada hamparan sawah serta rumah-rumah joglo. Perjalanan saya akhirnya sampai ke rumah nduk dan disambut hangat oleh nduk sekeluarga. Ingin rasanya, tiduran di area ruang tamu ruang nduk sembari pintu dan jendela dibuka ,karena teramat lirihnya angin pagi itu dan nyamannya suasana rumah serta desa namun, Lasem pun telah menanti disana. Kurang lebih 2 jam mengobrol, bercerita, bergurau dan tentu tidak lupa sarapan untuk kedua kalinya, saya berpamitan untuk bergeser kembali ke penginapan. Selayaknya ke rumah orang tua, perbekalan pun dari ibunda nduk diberikan ke saya untuk dibawa ke Mojokerto dan terbelalak lah saya karena satu kantong plastik penuh makanan ringan diberikan. Nduk,,, bagaimana saya membawanya? hahahaha, alhasil saya bawa pula makanan ringan tersebut ke penginapan dengan tentunya diantar oleh saudara nduk karena, kendaraan umum pun tidak kunjung datang. Dengan sedikit berbagi buah tangan tersebut dengan ibu pemilik penginapan, saya pun ijin untuk check out dan melanjutkan perjalanan ke Lasem.
- Rembang, sebuah daerah yang membuat saya tidak merasa hilang dan berkesan karena kebaikan warganya -
Sekitar pukul sebelas siang, saya menuju Lasem tentunya dengan berpamitan dengan Nduk beserta keluarga yang berada di Rembang. Perjalanan dari pusat Rembang ke Lasem terpaut sekitar 30 menit baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Sampai di Lasem, saya meminta ijin agar diperbolehkan Check In lebih awal karena cukup berat isi tas saya dan tentunya buah tangan dari Rembang. Ternyata, bukan beratnya tas yang menjadi PR justru, karena guide saya tiba-tiba tidak dapat dihubungi. Dan alhasil bertanya kesana kemari dan menunggu seperti anak ayam kehilangan induk. Syukurlah sekitar satu jam menanti, guide saya muncul didepan homestay. Ya, trip kali ini dipandu oleh Mas Hidayat/Mas Dayat dari LangLang Lasem yang mana telah menerima permintaan saya H-2 sebelumnya hehe.. Terima kasih sebelumnya ya mas dan juga Terima kasih untuk Mas Pop juga telah menghubungkan. Mungkin, dari raut wajah saya akhirnya Mas Dayat paham saya teramat lelah dan lapar sehingga perjalanan kali itu diawali dengan makan siang dan permintaan saya adalah Kelo Mrico, sebuah kudapan dari ikan yang dimasak berkuah asam. Sesampainya disana, ternyata Kelo Mrico sudah habis dan pilihan saya akhirnya jatuh pada asem-asem daging serta acar ikan. Tak apalah, lumayan memuaskan perut saya di siang itu namun hati ini tetap menginginkan mencoba Kelo Mrico di makan selanjutnya. Setelah perut ini tidak bergejolak, kami menuju titik pertama dengan tentunya berboncengan dengan beliau karena ini akan sangat menyingkat waktu dan transportasi umum disana yang belum menyeluruh ke berbagai kawasan. Desa Karangturi menjadi destinasi pertama, dimana Desa ini merupakan Pecinan terbesar di Lasem. Namun, Desa Karangturi bukanlah Pecinan pertama, ialah Desa Soditan. Desa Soditan menjadi pecinan pertama sebelum akhirnya terjadi peristiwa Geger Pecinan yang akhirnya pecinan berpindah ke Desa Karangturi. Secara total, terdapat 5 desa yang memiliki kawasan pecinan diantara 18 desa di Lasem. Lasem dipilih oleh warga Tionghoa karena apik secara fengshui, yakni menghadap lautan dan membelakangi bumi (gunung). Pada tahun 1800an, jumlah warga Tionghoa cukup banyak namun, jumlah ini menurun sekitar tahun 1900an. Dikarenakan Lasem menghadap laut, maka wilayah ini juga diperuntukkan sebagai pelabuhan dari jaman kerajaan Majapahit hingga Kolonial Belanda dan berhenti ketika Jepang masuk ke Indonesia. Dari kawasan Desa Karangturi, kami menuju destinasi selanjutnya yakni Klenteng Po An Bio.
Klenteng Po An Bio didirikan di tahun 1740, dengan altar utama Bao An Zun Wang atau Guang Ze Zun Wang. Berada di jalan karangturi, klenteng ini berdiri dengan dua patung singa di bagian depan menyambut tamu untuk masuk kedalamnya. Bentuk atap dari klenteng ini disebut atap walet, dan atap bentuk ini banyak kita temukan di Lasem yang bermakna kesejahteraan ataupun kemakmuran. Kami tidak masuk kedalamnya karena keterbatasan waktu, sehingga cukup bercerita di depan klenteng tersebut. Sebuah keunikan lagi terdapat di seberang klenteng, yakni terdapat Pohon Bodi yang menjulang tinggi dan cukup besar, jujur baru pertama kali ini saya bertemu dengan pohon Bodi. Berbicara perihal klenteng, di Lasem terdapat 3 klenteng utama. Dua lainnya ialah Klenteng Cu An Kiong yang nantinya kami akan berkunjung ke dalamnya dan Klenteng Gie Yong Bio yang dibangun untuk peringatan gugurnya 3 tokoh dalam peristiwa geger pecinan tahun 1780. Dari Klenteng Po An Bio, kami menuju destinasi selanjutnya.
Rumah Tegel LZ atau Pabrik Ubin LZ merupakan kepemilikan dari Lie Thiam Kwie, berdiri sekitar tahun 1900-an di Jalan Raya Daendels Lasem atau saat ini Jalan Kragan-Rembang-Surabaya. Lie Thiam Kwie mendarat di Lasem dalam usia cukup muda yakni 15 tahun, sebelum akhirnya mendirikan pabrik tegel, telah memiliki beberapa usaha dagang. LZ yang merupakan merk tegel tersebut adalah sebuah singkatan dari Leipzig (Jerman), hal yang mendasari nama ini adalah banyaknya mesin pada saat itu yang didatangkan dari Leipzig. Pada area tersebut, dibagi menjadi beberapa tempat, halaman rumah dahulunya memiliki pagar lengkung namun telah dibongkar tatkala pelebaran jalan, rumah utama yang memiliki teras depan serta teras belakang, paviliun disamping kiri rumah yang memanjang senada dengan rumah inti, area taman belakang yang dihiasi dengan air mancur, pohon-pohon rindang dan garasi mobil serta tak lupa pabrik tegel itu sendiri. Total area keseluruhan sekitar 5000m2. Saat ini rumah tegel diwarisi oleh generasi ke-3, namun kami tidak dapat bertemu dengan beliau selaku pemilik sekarang karena sedang sakit. Kami memasuki area tersebut dan melihat mesin-mesin pembuatan tegel dan yang membuat takjub adalah merk "TEGELGFABRIEL LZ LASEM" dahulunya tertambat di bagian belakang tegel. Tak hanya itu, namun sepanjang paviliun pun, berbagai motif tegel tertambat di lantai-lantai kamar, ruang makan dan lainnya. Wow, wow dan wow yang saya sebutkan sembari berjalan. Bapak Marto, selaku pekerja senior di pabrik ini telah mengabdi selama 55 tahun dan sampai saat ini masih setia menggarap batako serta tegel jikalau ada pesanan, yang tentunya dengan motif-motif yang saat ini diputuskan untuk digarap. Salut untuk beliau dengan kesetiaan dan sumbangsihnya. Dengan menerima tawaran dari Mas Dayat, kaki ini memasuki area rumah utama. Disambut dengan tegel-tegel yang bermotif gambaran ayat-ayat dalam Injil, yang tertambat pada pagar di area teras belakang dan gambaran teduhnya jikalau air mancur dijalankan kembali, serta rindangnya pohon-pohon disana, tangan ini membuka pintu rumah tersebut dan disambutlah kami dengan nuansa lawas nan mahal tertuang pada perabot serta tegelnya baik itu di dalam kamar maupun ruangan-ruangan lainnya. Kami menelusuri kamar serta ruangan baik itu di area kanan, kiri dan depan. Tatkala kami memasuki kamar depan, pandangan ini langsung tertuju pada tangga menuju lantai 2 yang tertutup di bagian ujungnya. Didorong dengan keingintahuan apa yang ada didalamnya dan mengesampingkan ketakutan akan ketinggian, saya pun naik ke atas dengan tentunya siaga kalau-kalau saya oleng haha 😆. Dan,,,,, sarang burung walet menanti di kegelapan tersebut. Kabar baiknya, ada senter Mas Dayat yang menemani penelusuran area lantai 2. Sejauh kaki ini melangkah, hamparan grajen kayu ditabur sebagai alas, pot-pot yang berisi setengah air untuk minumnya walet di beberapa titik serta sekat-sekat ruangan seperti halnya sekat ruangan di lantai 1 pun terdapat di lantai 2. Namun, sirkulasi udara di area tersebut masih bisa dikatakan ok jika dibandingkan dengan goa belanda di Watukosek, Mojokerto karena teramat banyaknya kelelawar disana. Setelah puas dengan lantai 2, kami pun turun dan disambut ibu penjaga pabrik yang mungkin sedari tadi kebingungan atas menghilangnya tamu ini hehe.
Dengan tuntasnya keingintahuan atas lantai 2 rumah tegel, kami pun menuju Soditan yang berada di sisi utara jalan daendles.
Klenteng Cu An Kiong atau istana kebajikan berdiri sejak 1477 dan dibangun oleh pelaut dari tiongkok. Pada klenteng ini Dewi Ma zu atau Dewi Samudra atau Thian Siang Seng Bo di altar utama namun sebuah pantangan untuk mengambil gambar dengan kamera karena sangat dipujanya Dewi Ma zu. Dahulunya, bangunan klenteng ini adalah yang sekarang menjadi bagian dalam, namun seiring waktu mengalami penambahan ruangan. Klenteng Cu An Kiong pun tak lepas dari renovasi yang salah satunya mengganti patung kilin di bagian gapura dengan patung singa eropa. Jika kita melihat bagian atas klenteng, maka terlihat atap ekor walet serta patung-patung klasik Tiongkok seperti Naga, Phoenix, Kilin dan lainnya dan jika kita masuk ke dalam klenteng maka kita mendapati sebuah ruangan terbuka dibagian tengah klenteng dan tatkala kita menuju ke altar maka kita akan melihat mural monokrom yang diambil dari 100 panel ‘komik’ Fengshen Yanyi (Penobatan Para Dewa). Berlanjut dari dalam klenteng, kami menuju area depan luar klenteng yang mana terdapat tungku pembakaran uang kertas di samping kanan dan monumen geger pecinan di samping kiri. Geger Pecinan di Lasem tidak lain adalah aksi susulan dari batavia dimana terjadi pada oktober 1740 sampai 1743. Berkesinambungan dengan klenteng gie yong bio, 3 tokoh pahlawan lasem yang gugur melawan VOC kala itu yakni, Tan Sin Ko (Singseh), Oey Ing Kiat (Raden Tumenggung Widyaningrat/Bupati Lasem) dan Tan Kee Wie. Sembari menunggu jawaban dari destinasi selanjutnya, Mas Dayat bercerita bahwa di sebuah lereng bukit yang berada 2 KM dari timur Lasem, terdapat sebuah batu dengan pahatan aksara cina. Batu tersebut merupakan prasasti yang berisi puisi dengan aksara Han oleh Lao Su, dimana diprediksi ditulis pada 1800an. Jika membaca seluruh puisi tersebut, maka singkatnya akan berisi tentang sebuah perjalanan untuk mencari kehidupan yang layak telah berakhir. Lasem, sebagai jawabannya, dimana dipilih sebagai tempat untuk kehidupan serta kesejahteraan selanjutnya berdasar prinsip fengshui dengan penggambaran sungai, gunung dan sarang naga. Tidak jauh dari letak prasasti pertama, terdapat prasasti kedua berisi tentang kisah seseorang yang memiliki kisah apik namun lingkungan tidak berpendapat demikian, dan waktu pun tidak tiba karena kejayaan telah sirna. Kesedihan itu seolah tertuang pada rintik yang sempat turun di sore itu, namun waktu masih memberikan jalan bagi kami dengan permintaan masuk ke destinasi selanjutnya mendapat penerimaan, kami pun mengarah sejenak ke utara Klenteng. Lawang Ombo siap kami kunjungi.
Lawang Ombo, sebuah istilah karena pintu rumah ini memiliki ukuran paling "ombo" dari rumah sekitarnya. Rumah ini dibangun oleh Liem Cui Soon yang merupakan Tionghoa yang berdasar papan arwah berasal dari Sandong Hushan, yang kemudian mendarat di Lasem dan memilih tinggal di Lasem dan ia berpangkat Dengshilang. Sedangkan generasi ke-2 adalah Liem King Siok, yang berdasar buku Staatsblad van Neterlandsch-Indie 1815-1942 tercatat bahwa pada tahun 1837-1855 Liem King Siok menjabat sebagai Kapiten Cina, dan pada tahun 1934 jabatan tersebut pernah dipegang oleh Lie Thiam Kwie (Rumah Tegel LZ). Rumah ini merupakan saksi biru perbisnisan candu dengan jalur pengiriman dari Singapura ke Lasem. Candu sendiri terbuat dari getah pohon, dulunya sempat ada uji coba budidaya candu di Lasem namun ternyata tidak terlalu menghasilkan sehingga tetap dikirim dari Tiongkok. Rumah ini berada di depan sungai lasem dan pada tahun tersebut kapal dengan mudah melintas di sungai lasem bahkan sanggup membawa muatan 10-35ton. Seiring dengan terjadinya batasan perdagangan candu maka, bisnis tersebut menurun di tahun 1800-an. Berbicara perihal bangunan, atap bangunan ini adalah atap ekor walet, dihiasi dengan patung kilin di depan pintu rumah, lantai tercota yang dikirim dari tiongkok, mewarnai keapikan bangunan tersebut. Di area tengah rumah, terdapat altar sembahyang keluarga dan dulunya di samping kanan merupakan kamar wanita dan kiri kamar pria dari keluarga. Pada area belakang rumah terdapat teras dan sebuah jangkar yang besar menunjukkan Lasem sebagai kota pelabuhan yang ramai di kala itu. Dilanjutkan dengan area outdoor dan sebuah rumah yang berada persis dibelakangnya berlantai 2. Rumah tersebut saat ini difungsikan sebagai gudang meja, almari dan perabotan kayu lainnya. Sempat terpikir untuk naik ke lantai dua namun urung karena Bong di samping kanan rumah sudah menanti. Bong (makam cina) dari Liem Cui Soon berada disana, terbentang luas nan asri dibawah rimbunnya pohon dan disamping kanannya terdapat altar Dewa Fusen. Tatkala kita berjalan ke arah depan rumah, maka kita dihadapkan dengan dua tiang batu tinggi yang terdapat pahatan tulisan china, yang ternyata tiang tersebut adalah batu utuh yang dikirim dari Tiongkok yang dibentuk dan dipahat menjadi demikian. Berjalan ke arah rumah inti, saya ditunjukkan pada sebuah lubang tanah di salah satu ruangan, lubang tersebut cukup untuk dimasuki satu orang saja, saat ini berisi air dan informasinya terdapat banyak ular didalamnya sehingga sangat tidak sarankan untuk dimasuki. Ya, lubang ini adalah tempat untuk menyelundupkan candu di kala terdapat batasan import candu. Terdapat terowongan yang mengarah ke sungai lasem dari lubang tersebut, sehingga sampan lah sebagai penyalur candu dari sungai lasem yang kemudian akan diangkut pekerja tatkala sampai ujung lubang dan akan disimpan di bagian atas rumah dengan 8 ruang penyimpanan. Lubang terowongan ini tidak sengaja ditemukan oleh Pak Subagyo yang saat ini mewarisi rumah tersebut tatkala beliau sedang membersihkan atap dengan tangga dan tangga tersebut sempat terperosok ke dalamnya. Berbekal dengan keindahan Lawang Ombo, kami menuju sebuah rumah yang posisinya tak jauh dari Lawang Ombo maupun Klenteng Cu An Kiong.
Setelah mendapat ijin dari penjaga rumah, kami pun masuk melalui pintu samping dan saya berhenti karena kaget melihat sapi gembul didalamnya yang tidak di ikat sama sekali. Sepertinya si sapi sudah betul-betul menganggap rumah ini miliknya sendiri bahkan dengan luwesnya ia berjalan-jalan sore di sekitar rumah 😅. Tak mau kalah dari si sapi, anjing-anjing kecil disana saling bersautan ingin diajak berdiskusi namun tak berani untuk mendekat. Ya, rumah ini dikenal dengan Omah Gladak, hal ini tidak lain karena rumah dengan desain khas tionghoa merupakan rumah panggung sehingga, jika kita berjalan diatasnya maka akan terdengar "gladak gladak". Uniknya, rumah bagian dalam berdesain khas rumah tionghoa namun rumah bagian depan bergaya Indische. Tatkala kita memasuki rumah utama, sebuah altar sederhana dengan patung Budha berada ditengahnya dan betul bahwa rumah tersebut adalah Vihara, yakni Vihara Karuna Dharma. Tersebutlah bahwa rumah tersebut dibangun oleh Ong Kiem Liang dimana semasa hidup, beliau memiliki putra dan putri dan dikarenakan sang putri telah wafat sedangkan sang putra memilih tinggal di luar Lasem, maka Ong Kiem Liang menghibahkan rumah tersebut ke yayasan untuk dijadikan sebagai Vihara. Semakin masuk ke dalam dan berada di balik altar Budha, kita akan diperlihatkan dengan altar keluarga Ong Kiem Liang. Pada sisi kiri rumah, terdapat sebuah tangga kayu yang secara bentuk dan kemiringan berbeda dengan Rumah Tegel, sehingga saya tak perlu ragu untuk melangkah. Pada area lantai 2 saat ini tidak difungsikan sebagai gudang atau lainnya, namun jendela terbuka disana seolah menjadi oase ditengah kegelapan lantai 2. Dari jendela tersebut, kita dapat melihat bangunan di sekitar dan atap dari Klenteng Cu An Kiong. Puas dengan menghirup udara di jendela, kami pun turun namun Mas Dayat menunjukkan sebuah karakter tiongkok yang melekat pada bagian bawah atap. Kami ke arah belakang rumah dan terdapat sebuah teras memanjang dengan pilar-pilar khas indische dan jika kita melipir ke bagian kiri, maka kita dapat melihat lubang-lubang dari rumah panggung bagian bawah, dahulunya ibu-ibu pembuat batik sering beristirahat di area tersebut karena udara yang cukup dingin. Setelah berpamitan dengan penjaga vihara dan tentunya menyapa anjing-anjing kecil disana, kami menuju destinasi yang agak jauh dari titik awal.
Sedari perjalanan, kami banyak menemui atap walet, dahulunya atap ini hanya diperuntukkan untuk pejabat serta rumah ibadah. Namun lain halnya dengan Lasem, atap dengan bentuk demikian teramat banyak dan menjulang apik. Di pertengahan perjalanan, Mas Dayat menunjukkan bukit letak batu prasasti puisi dari jauh, semoga perjalanan ke Lasem selanjutnya dapat bersua kesana.
Semakin jauh perjalanan, kami disambut perahu-perahu nelayan yang tertambat di pinggir sungai dan tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat sebuah Situs Umpak Bea Cukai. Situs ini dibangun oleh Belanda tatkala menguasai Lasem pada abad ke-18. Tujuannya tidak lain adalah kantor bea cukai pelabuhan untuk kapal-kapal yang keluar masuk di jalur ekonomi sungai lasem. Terdapat 12 umpak disana yang masih terjaga namun bangunan diatasnya sudah hilang dimakan usia. Kami beristirahat sejenak untuk menikmati senja yang sedari tadi menjadi bayangan tatkala kami sibuk memperhatikan umpak. Berbekal senja yang mulai temaram kami segera ke destinasi selanjutnya.
Sampailah kami di Pantai Dasun, dimana kapal-kapal dari laut menuju ke sungai lasem melalui pantai ini. Dahulunya pelabuhan berada di Teluk Regol, Bonang namun berpindah pada masa kepemimpinan Adipati Wirobrojo. Pelabuhan ini tidak memiliki mercusuar seperti pelabuhan belanda lainnya, hal ini dikarenakan pelabuhan ini terpantau aman baik dari segi karang maupun perairan. Berbicara tentang Lasem tentu erat kaitannya dengan berlabuhnya kapal rombongan Laksamana Ceng Ho dari Campa/Kamboja di Teluk Regol. Salah satu awak kapal bernama Bi Nang Un memilih untuk tetap tinggal di sana. Raja Lasem kala itu meminta agar ketika Bi Nang Un kembali ke Lasem, membawa benda-benda yang tidak terdapat di Lasem yakni jenis padi cempo klewer, merak biru, buah delima, ketan hitam dan ahli kerajinan. Sejak itulah komunitas Tionghoa berkembang pesat di Lasem. Bi Nang Un sendiri adalah seorang Budhis, dan beristrikan Na Li Ni serta memiliki anak Bi Nang Na dan Bi Nang Ti. Bi Nang Ti sendiri tatkala dewasa menjadi istri Pangeran Badranala yang merupakan putra dari Adipati Lasem. Sepanjang saya mendengarkan tuturan beliau, badan ini seolah huyung kesana kemari karena ombak di bagian bawah tempat kami berdiri yang mulai kencang dan angin malam yang mulai menyapa, akhirnya kami pun menyisir Pantai Dasun dengan was-was takut akan sepeda oleng tertiup angin dan tersembur ombak 😁.
Malam mulai menyapa dan jikalau kami tidak mengejar waktu, mungkin warung ikan asap yang aromanya memanggil-manggil di perjalanan, sudah saya sapa terlebih dahulu. Dan pula, saya masih ada janji dengan penjual Yopia Kupu-kupu untuk mengambil pesanan saya yang sudah sedari H-2 pula saya pesan. Ya, Yopia Kupu-kupu merupakan salah satu jajanan tradisional atau oleh-oleh khas lasem. Kue ini berkulit tipis dengan isi gula merah pada bagian dalam bawah yang manisnya sungguh pas, dan bagian dalam atas kopong. Kue ini berdiameter sekitar 7 cm dan garing serta tidak meremah. Kalau rekan saya di Malang tidak bercerita dan saya tidak menerima jastipnya, mungkin saya tidak terpikirkan untuk membawa Yopia sebagai buah tangan. Kue ini bukan hanya sebagai oleh-oleh, namun lebih dari itu ialah sebuah bukti warisan Tionghoa di Lasem dan sebuah bentuk kesetiaan akan resep leluhur. Terima kasih untuk Mas Tony dan Ibu yang sudah memberikan waktunya agar kue ini dapat dinikmati warga luar Lasem.
Berbekal satu kantong penuh Yopia, sampailah kami di Oemah Batik Lasem dan kabar baiknya dapat bertemu dengan rekan-rekan heritage lainnya, diantaranya Mas Pop, Mbak Agni serta kawan dari Yogya dan bertemu pula Pak Rudy selaku Owner. Kami pun mengobrol sejenak dan tentunya dengan membawa bekal akan update Yayasan Lasem Heritage kedepannya. Langkah kaki ini pun menuju Oemah Batik Lasem dan terpukau dengan batik-batik didalamnya. Sembari Mas Dayat mengistirahatkan kakinya, saya berkeliling untuk memilih batik dan dengan didampingi karyawati yang sedari dulu menjadi kompor dalam pembelian tatkala saya mengikuti live di IG Oemah Batik Lasem 😀. Batik pun sudah ditangan, dan kami pun menuju Museum Batik Tiga Nagari. Didalamnya terdapat sejarah terkait Batik Tiga Nagari sendiri, 15 sketsa ulang kain batik dari Johanna Tjoa sejak tahun 1930, yang ditemukan dalam sebuah peti dan tentunya alat-alat serta bahan batik lama. Dalam kisahnya, Batik Tiga Nagari memiliki tiga ciri warna yakni merah getih pitik (darah ayam) cerminan tradisi Cina dari Lasem yang blanko merahnya dibuat di Lasem, lalu biru indigo warna khas batik indo Belanda Pekalongan yang menjadi pewarnaan kedua tentunya di Pekalongan, serta warna coklat sogan yang sarat makna filosofi Jawa dan keragamanan budaya yang pewarnaannya berada di Solo. Itulah mengapa batik tersebut dijuluki Batik Tiga Nagari. Sedangkan motif dari batik ini perpaduan dari budaya lokal dan tionghoa. Setelah takjub dengan skesta batik johanna tjoa, kami menuju area yang lebih dalam yakni sebuah rumah yang teramat besar dan luas tertambat di dalamnya.
Rumah Merah Heritage Lasem merupakan rumah kuno yang berlanggam Indische yang diperkirakan sudah ada sejak 1860. Pemilik awal rumah ini tidak dapat diketahui, namun melihat kemegahannya bukan tak mungkin seseorang yang memiliki kuasa di daerah tersebut. Sebelum akhirnya menjadi Rumah Merah Heritage Lasem, rumah ini pernah pula ditinggali oleh keluarga pengusaha roti yang mana terlihat dari bekas tungku pembakaran roti didalamnya dan selanjutnya pernah menjadi sarang burung walet. Jika kita masuk ke ruangan sebelah kiri rumah, maka kita akan mendapati sebuah lorong bawah tanah yang berjarak beberapa meter saja dan menyambung ke area Museum Batik Tiga Nagari. Saat ini, rumah tersebut difungsikan sebagai Guest House dengan beberapa kamar yang ada di dalamnya. Masih satu area dengan Rumah Merah, terdapat rumah lain yang juga kuno dan difungsikan sebagai Guest House pula, serta tak lupa area-area lain yang berisi bangunan lawas yang mewarnai keapikan area tersebut. Dan bahkan, kita dapat menjumpai kamar lawas dari mendiang Johanna Tjoa. Beranjak sejenak dari Rumah Merah Heritage Lasem, kami berkunjung ke Rumah Oei.
Tatkala kita memasuki Rumah Oei saat ini, maka kita akan disuguhkan oleh beberapa area. Di area depan dan samping terdapat beberapa penjual makanan, yang dilanjutkan oleh tempat duduk bagi para pengunjung pujasera, Rumah Oei itu sendiri dan di bagian belakang adalah Homestay. Tatkala saya membaca sejarah Rumah Oei, Mas Dayat mengingatkan kembali dengan simbol tolak bala di dinding rumah tersebut, yang dapat dijumpai pula di klenteng maupun tempat lainnya. Setelah sejarah tersebut saya baca, kami pun masuk ke dalam Rumah Oei. Atmosfir yang sungguh berbeda didalamnya, sungguh tenang padahal persis didepan rumah tersebut terdapat banyak sekali pengunjung. Layaknya rumah lainnya, terdapat ruang tamu di sisi kanan dan kiri dengan dihiasi perabot lawas serta kerajinan dari generasi Rumah Oei. Pada bagian tengah terdapat altar sembahyang dan disamping kanan dan kiri terdapat masing-masing 2 kamar disana, yang difungsikan sebagai galeri foto generasi Rumah Oei, tempat tidur lawas dan lainnya namun ada satu kamar disana yang tertutup rapat seolah menyimpan keapikannya. Ingin rasanya berlama-lama di Rumah Oei karena atmosfir yang berbeda tersebut, belum lagi kursi kayu dengan sandaran marmer yang semakin membuat "adem". Namun, perjalanan ini harus segera usai karena suara gluduk mulai menyapa. Sebelum kami pulang, perut mulai menagih janji untuk diberikan amunisi. Kami mencoba mencari Kelo Mrico di beberapa tempat namun ternyata sedang tidak berjualan dan akhirnya malam itu kami tutup dengan makan malam di Alun-alun Lasem sambil bercerita tentang Alun-alun Lasem dan bangunan belanda di sekitar area tersebut. Kalau saja Mas Dayat ataupun guide lain bisa esok hari, pasti kami akan bersua kembali namun Lasem sedang ramai-ramainya dan akhirnya saya kembali ke homestay dan Mas Dayat kembali ke Bonang. Terima kasih Mas sudah menjadi guide saya selama di Lasem dan Terima kasih pula untuk informasi-informasi yang telah diberikan. Semoga lain waktu dapat bersua kembali di Lasem karena banyak tempat apik yang belum dikunjungi.
Selisih sekitar 30 menit dari kedatangan saya di homestay, hujan mulai turun. Sepertinya, hujan mengamini saya untuk menelusur Lasem di hari itu. Saya pun akhirnya beristirahat namun dengan kebingungan bagaimana membawa oleh-oleh serta batik ini, tak apa, esok dipikirkan kembali hahaha...
Pagi menyingsing dan saya baru teringat jika saya belum membeli titipan daster batik saudara jauh saya, alhasil dengan mengandalkan baju terakhir yang masih bersih dan memang sudah saya siapkan kalau-kalau ingin foto di Lasem, saya pun bergegas ke Oemah Batik Lasem lagi. Dan sykurlah, ojek online yang hanya ada di Rembang, saat itu ada di Lasem. Sesampainya disana, saya langsung membeli daster batik dan tak lupa baju batik lainnya hehe,,, Dalam perjalanan menuju warung yang di menunya terdapat Kelo Mrico, saya pun bertemu dengan Mbak Agni dan Pak Rudy dengan menyapa sejenak. Tatkala di warung yang berada satu area dengan Rumah Oei, otomatis pesanan saya adalah Kelo Mrico namun memang betul-betul tidak berjodoh dengan makanan khas satu ini. Ibu penjual mengatakan belum memasak menu tersebut dan baru memasak nanti jam 2 siang padahal saya harus pulang jam 12 siang,, sedih,, tak apalah Soto Kemiri dan Gimbal Udang menjadi pelepas lapar di pagi itu. Selepas sarapan, berbincang dengan Ibu pemilik warung, serta berhenti sejenak di warung sambil melihat riwa-riwi warga Lasem, saya pun menyeberang ke Toko yang berada di sebrangnya yang menurut ibu pemilik warung pasti ada kardus yang saya cari, karena meskipun toko tersebut kecil namun, toko tersebut merupakan agen teh, rokok dan lainnya di Lasem. Dan betul, toko tersebut merupakan agen rokok, teh, plastik kemasan dan bumbu-bumbu instant memanjang ke belakang, sungguh tidak terduga. Berbekal kardus dan tali rafia, saya pun kembali ke homestay dan syukurlah bapak ojek online yang sama dapat ditemukan. Sesampainya di homestay, saya pun berberes dan bersiap untuk kembali ke Malang.
Lasem, sebuah tempat yang seperti rumah sendiri. Tidak ada perasaan hilang karena teramat baiknya warga didalamnya dan penuh sambutan hangat akan para pendatang yang sudah ataupun belum pernah bersua kesana.
Lasem, sebuah surga untuk pencari ketenangan yang diselimuti dengan rahasia-rahasia klasik dan tionghoa. Semoga lain waktu dapat bersua kembali ke Lasem untuk menelusur tempat-tempat apik lainnya.
#heritagelasem
#heritagerembang

Komentar
Posting Komentar