Samarang (Part I)


"wow,, padat sekali ya bund,,,πŸ˜€" itu yang saya tangkap dari rundown perjalanan ke Samarang. Sebuah kota yang belum pernah saya telusuri sebelumnya. Namun, bukan Ngetrip Bareng namanya kalau perjalanan ini tidak seru dan tidak membuat kaki ini betul-betul rehat di malam harinya.

Samarang merupakan tujuan kami dan merupakan titik temu, sehingga masing-masing dari kami mengatur perjalanan sendiri dengan segala drama di perjalanan. Dan drama itu sempat mendatangi saya yang seketika harus mengubah alat transportasi karena "transportasi jalur premium" terlambat sampai yang menyebabkan saya ketinggalan jadwal selanjutnya. Tapi,, perjalanan harus berlanjut karena Samarang telah dinanti.

Pukul 10 malam pada kamis itu, saya akhirnya tiba di Raden Patah Heritage Hotel. Sebuah hotel yang berada di kawasan Kota Lama Samarang, namun percayalah bahwa Hotel ini sangat nyaman dan tidak bising sehingga membuat tidur saya lelap beberapa hari tersebut. Ditengah menikmati suasana teras Hotel, perut ini bergejolak nan teramat lapar karena terkuras tenaga akan drama transportasi namun, bakmi jawa yang sudah saya bayangkan kuah kentalnya tidak berjualan πŸ˜“. Alhasil, roti menjadi pelepas lapar malam itu. Malam pun saya akhiri dengan pintu yang dibuka oleh kakak tercinta saya, dan tidur pun menjadi pelepas lapar pula di hari itu.

Pagi menyingsing, saya pun menyempatkan membuka daun jendela yang mengingatkan memori rumah nenek dikampung. Tentunya bukan rumah nenek saya karena justru rumah nenek tidak memiliki daun jendela yang demikianπŸ˜…. Ditengah menikmati suasana jalan kawasan Kota Lama Samarang dari jendela tersebut, tawaran untuk sarapan Soto Seger yang berada di depan Hotel membangkitkan semangat pagi itu. Semangkuk kecil Soto yang berisikan nasi nan mungil, kuah khas pekat kaldu, taburan bawang putih goreng beserta kondimen lainnya dan tak lupa empuknya potongan-potongan daging ayam memberikan kehangatan pada perut ini di pagi itu. Soto ini terasa sekali kaldunya namun bagi lidah saya, ini cenderung manis, tapi tidak mengurungkan niat saya untuk menghabiskannya. Lepas dari Soto Seger, kami memulai perjalanan di hari itu.

Fletterman, atau rumah milik Abraham Flatterman menyambut hangat dengan sinar matahari yang menerangi rumah tersebut. Rumah ini dibangun pada abad 18 sebagai rumah pribadi namun saat ini telah dikelola oleh sebuah yayasan. Berada di sebuah pertigaan Jalan Veteran dan Kyai Saleh, rumah dengan bentuk menara di bagian kanan ini berdiri megah. Kemegahan itu tertuang pada lantai marmer, atap lengkung dengan batu bata penyusunnya, serta tangga kayu yang menjalar sampai lantai 2. Pada area rumah ini terdapat 2 bangunan yang disatukan dengan sebuah koridor disamping kiri rumah. Beralih ke bagian belakang rumah, terdapat sebuah taman yang asri nan teduh dan bukan saya namanya jika pandangan ini tidak tertuju pada buah-buahan yang sengaja ditanam oleh penjaga rumah πŸ˜‹. Konon, pada saat Jepang datang, rumah ini sempat dijadikan tempat persembunyian Belanda.

Beralih dari Fletterman, terdapat sebuah bangunan megah yang berada persis di seberangnya. Istana Gergaji Oei Tiong Ham (OTH) yang saat ini menjadi Kantor OJK Semarang. Sebelum menjadi milik Oei Tiong Ham, rumah ini merupakan rumah milik warga cina yang kemudian dibeli oleh ayah Oei Tiong Ham dan kemudian direnovasi. Dahulunya, area Istana Gergaji ini sangatlah luas terbentang sekitar 81 hektar yang didalamnya terdapat berbagai fasilitas yakni taman, gazebo, kebun binatang, danau dan lainnya. Namun kini area tersebut sudah berubah fungsi menjadi perkampungan warga. Kami tentunya tidak dapat masuk ke rumah utama karena saat ini menjadi kantor namun dari sisi belakang rumah utama, kita dapat melihat kusen-kusen pintu dengan kaca patri yang elok, dan yang membuat terkesan pula adalah bentuk talang air yang membentuk wajah manusia dapat kita jumpai di sisi kiri rumah utama. Saat ini, sejarah terkait Oei Tiong Ham dapat kita ketahui dalam Museum yang berada di area tersebut, dan berada dalam satu gedung dengan museum, disebutkan bahwa terdapat bathub yang terbuat dari marmer, namun kami tidak dapat melihat bathub karena terbatas akses.

Bertolak dari Istana Gergaji OTH, kami mengarah ke kampung Sleko namun tentunya tidak dengan berjalan kaki karena nan jauh jarak yang harus ditempuh.

Menara Syahbandar, berada di tepi New Haven Canal menuju kali semarang, yang mana bangunan ini diperkirakan dibangun pada 1855-1867. Bangunan ini berfungsi sebagai pengawas untuk keluar masuknya kapal dan barang di Samarang. Menara Syahbandar mengarah ke 4 empat mata angin sesuai dengan fungsi bangunan tersebut. Terdapat 3 lantai pada bangunan tersebut, namun.... kaki ini sudah gemetar tatkala sampai di lantai 2. Pada lantai 1 dan 2 terdapat bilik-bilik sedangkan pada lantai ketiga dan atapnya agak meruncing. Saat ini, bangunan sudah sepenuhnya direvitalisasi yang mana bangunan tersebut dulunya sempat mangkrak dan nyaris roboh. Dahulunya, terdapat Nederlandsch Indische Gasmaatschappij (NIGM) di sisi barat menara namun saat ini sudah tidak terlihat fasadnya dan saat ini Menara Syahbandar berada dalam properti Perusahaan Gas Negara. Berjalan sejenak dari Menara Syahbandar ke arah datangnya KAI, kita dapat melihat sebuah rumah lawas yang apik namun saat ini kosong untuk disewakan/dikerjasamakan. Dan maju sedikit kami perlu berhati-hati karena terdapat jalur KAI dan seperti biasa,,, kami justru mengabadikan moment datangnya kereta padahal semalam sudah naik kereta πŸ˜‚.

Setelah kami sibuk mengabadikan moment tersebut, kami melangkah dan disambut apik oleh sebuah bangunan lawas yang tertuang di atap depan "Anno 1897" dimana bangunan tersebut adalah kantor dari Nederlandsch Indische Gasmaatschappij (NIGM) . Kami memasuki area yang berada di belakang bangunan tersebut dan saya sempat takjub karena terdapat area yang ditumbuhi oleh Pohon Randu yang teramat banyak dan rimbun. Sungguh seperti oase ditengah panasnya Samarang. Sambil mengamati serangga-serangga yang belum pernah kami temui dan mungkin milik Pohon Randu, serta mendengarkan cerita tentang bangunan tersebut dibawah rindangnya Pohon-pohon Randu, terungkap bahwa dahulunya bangunan ini diperuntukkan sebagai gudang NIGM. Sebelum dipisahkan akan jalur ganda kereta api antara Tawang-Poncol oleh KAI yang sudah direncakan N.V. Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij (NIS) , Menara Syahbandar sampai dengan kantor beserta NIGM adalah satu kawasan.

Melangkah dari "Anno 1897", kami berjalan ke arah Pasar Johar namun tentunya dengan menikmati bangunan-bangunan lawas di area Kota Lama Samarang. Sempat pandangan ini tertuju pada sebuah bangunan unik dengan atap seperti bawang yang mana dahulunya merupakan Kantor Djakarta Lloyd. Arsiteknya sendiri adalah Thomas Karsten, sungguh terheran-heran saya dengan desain serta gagasan Bapak satu ini πŸ˜„.

Sampailah kami di Pasar Johar, sebuah pasar dari sekian pasar yang dirancang pula oleh Thomas Karsten. Keunikan langsung terpancar pada Kolom-kolom penyangga atap dengan struktur cendawan dimana kolom tersebut bersegi delapan yang mana pada bagian atas yang menyangga atap berbentuk seperti jamur (kontruksi mushroom). Diantara kolom-kolom tersebut, terdapat lubang-lubang persegi delapan tertutup pada bagian atas yang di sertai dengan kaca-kaca pada bagian sampingnya yang difungsikan untuk mengantisipasi air hujan yang masuk, kaca-kaca ini juga berfungsi sebagai jalur masuknya cahaya matahari sehingga menghemat energi. Terdapat satu kolom yang sengaja dipertahankan sampai saat ini karena Pasar Johar sempat terbakar api. Menyusuri pasar, terdapat dua bangunan serupa namun lebih kecil disamping kanan dan kiri pasar utama dan tentunya berfungsi sama. Pasar ini cenderung bersih dan teratur sehingga nyaman untuk berbelanja, dimana pasar ini terdiri dari dua lantai, lantai pertama lebih banyak didominasi oleh pedagang kebutuhan rumah tangga sedangkan lantai dua lebih diperuntukkan untuk kuliner. Kami sempat menikmati beberapa kuliner di lantai dua, diantaranya es gempol, es campur, soto dan kuliner lainnya.

12.00 WIB, sungguh matahari terasa di ubun-ubun. Sembari menunggu teman-teman yang ibadah Sholat Jumat, kami melipir dibawah pohon-pohon di area depan Pasar Johar. Dengan semilir angin dan kenyangnya perut siang itu, beberapa dari kami malah tertidur πŸ˜‚.

Bank Mandiri Mpu Tantular, sudah kami tunggu-tunggu dan kami pun segera melangkahkan kaki kesana. Bangunan ini dibangun pada 1906 yang didesain oleh biro arsitek Amsterdam Jacob F Klinkhammer, desain struktur oleh R.W Hinder yang dibangun sebagai kantor dari Nederlands Handel Maatschapij (NHM). Bangunan ini terletak didekat jaringan pelayaran Prahu Kali Mas, dekat dengan pemeberhentian prahu, pergudangan dan bangunan lainnya. Sebuah menara diletakkan di sudur L, sedangkan di kaki L terletak  pintu masuk utama, lobby, tangga utama dengan teras. Bangunan ini memiliki dua lantai dan tatkala kita memasuki Executive Lounge, sebuah brankas besi tua yang seukuran lemari baju pun menunjukkan kemegahannya. Ketika kita menuju lantai dua maka kita akan disambut oleh plakat yang bertuliskan Nederlands Handel Maatschapij serta plakat yang berisi peletakan batu pertama 2 Agustus 1908 oleh Gerda Van Straaten, yang berada di kanan serta di kiri dinding tangga utama. Menyusuri lantai dua, kemewahan ditunjukkan oleh berbagai motif ubin yang berbeda antar ruangan, berbagai motif kaca patri yang tertuang di pintu kayu serta lampu gantung yang apik nan lawas. Sejuknya bangunan ini tidak lain karena daun pintu tinggi dengan Krepyak dipasang di seluruh bangunan untuk aliran pengudaraan, membuat diri ini ingin berlama-lama di bangunan tersebut 😊. Pada area luar balkon terdapat koridor panjang dengan lengkungan-lengkungan yang apik untuk dibuat berfoto, sehingga antrian panjang dari kami sempat mendominasi sisi tersebut. Namun, kami harus beranjak ke destinasi selanjutnya, karena destinasi tersebut tidak kalah apiknya.

Sepanjang jalan menuju destinasi selanjutnya, pandangan kami tentunya dimanjakan dengan berbagai bangunan belanda yang salah satunya adalah Gedung Oudetrap, yang di area terasnya terdapat sebuah tangga besi lawas yang cenderung apik buatan Den Haag. Berlanjut perjalanan, kami dipertemukan dengan bangunan belanda lainnya, seperti Marba, Nu Semarang NV Semarangsche Automobiel Maatschappij, area Hotel Jansen yang saat ini sudah tidak terdapat bangunannya, serta Raden Patah Heritage Hotel yang kami tempati.

Sampailah kami pada destinasi selanjutnya yakni Susteran Ordo Santo Fransiskus (OSF) Semarang. Kedatangan kami disambut hangat oleh Suster Bertha yang berlanjut dengan tour mengelilingi area Susteran. Kami ditunjukkan dua buah plakat, yang salah satu plakat berisi nama-nama suster OSF dari Heythuysen, Belanda yang menggunakan kapal Jacoba Cornelia untuk misi ke Indonesia. Melangkahlah kami ke mini museum Susteran yang berisi sejarah berdirinya Susteran OSF Semarang, piano-piano lawas, barang-barang kuno Susteran, buku-buku, karya-karya Suster, dan bahkan diorama ruang makan keluarga Maria Catharina Daemen di Heythuysen yang merupakan pendiri kongregasi Suster OSF. Pada area belakang museum terdapat replika kapal Jacoba Cornelia, dan kami pun menyempatkan untuk berfoto bersama dengan Suster Bertha tentunya.

Banjir 2021 yang sempat menghampiri kawasan tersebut, membuat barang-barang rusak namun Suster OSF serta berbagai pihak berupaya untuk menangani kondisi tersebut. Pada sebuah dinding,terdapat sebuah plakat yang berisikan informasi bahwa peletakan batu pertama rumah sakit ini oleh Julis Coyett yang merupakan anggota dewan Hindia dan komandan Pantai Timur Laut Jawa pada 28 Juli 1723. Ya, bangunan ini dahulunya diperuntukan sebagai Rumah Sakit. Terdapat sebuah Kapel yang indah disana, yang berisikan ubin nan cantik, kaca patri yang berbagai motif, atap lengkung dengan titik dibagian tengahnya, daun pintu yang menorehkan bentuk daun yang sesungguhnya serta bejana air suci yang terbuat dari marmer. Keluar dari Kapel kami menuju salah satu area sekitar Kapel yang oleh para suster saat ini juga dipergunakan untuk menanam sayur, buah serta kolam ikan. Keteduhan menyelumuti sore itu namun kami harus mengakhiri perjalanan di hari tersebut. Kami pun berpamitan dengan Suster Bertha serta murid-murid di Susteran yang sedang piket jaga namun, tidak lupa pandangan ini masih menengok kesana-kemari melihat keindahan bangunan Susteran OSF tersebut dan ditutup oleh tiang lonceng nan amat tinggi setinggi harapan kaki ini untuk diistirahatkan πŸ˜†.

Sesungguhnya, Susteran OSF adalah destinasi terakhir di hari itu jika tidak salah satu serta dua dan sekian teman-teman menginginkan bersua dengan Menara Mercusuar Semarang. Akhirnya, kami pun berangkat menuju tempat tersebut. 

Mercusuar Willem III, berada di kawasan Tanjung Mas, Samarang yang mana selesai dibangun pada 1884. Hingga kini, mercusuar ini masih aktif dan berfungsi dengan baik. Mercusuar ini memiliki tinggi kurang lebih 30 meter yang dibagi menjadi 10 lantai dengan anak tangga melingkar namun jeda di setiap lantainya, di puncaknya terdapat lampu pancar berputar yang mencapai radius 20 mil untuk memandu kapal-kapal yang akan masuk ke pelabuhan. Sejujurnya, pandangan ini menanti senja pada salah satu jendela, namun senja tidak kurun muncul sehingga saya pun turun dari lantai 5 tidak belanjut ke lantai-lantai selanjutnya πŸ˜”. Sembari menunggu teman-teman yang asik di puncak menara, saya pun melepas dahaga karena teriknya matahari siang tadi dengan minuman dingin yang dijajakan di area sekitar Mercusuar. Dan satu hal yang membuat saya kegirangan, karena teramat bersahabatnya harga kuliner di Samarang ini yang berbeda dengan kota wisata lainnya. Setelah puas dengan puncak mercusuar, teman-teman pun turun karena petang sudah datang dan kami pun memutuskan kembali ke Hotel.

Sesampainya di Hotel, kami pun bersih diri dan mengistirahatkan kaki ini namun salah satu teman kami harus pulang di hari itu sehingga berkurang satu jumlah kami 😒. Tak apa, saya akan berusaha untuk menuliskan hari-hari selanjutnya ya Cha...... semoga mengatasi sedikit kerinduan akan Samarang

lanjut ke Part II..


#heritagesemarang



Komentar