Diawali dengan keriuhan dirumah karena sang majikan (kucing rumah) sempat menghilang 10menit, namun akhirnya dia kembali pula, sehingga tubuh ini pun harus mengejar jam keberangkatan menuju Kota Wingko, ya,,, Babat, Lamongan. Tujuan kali ini telah kami bahas cukup lama, namun belum terealisasi dan satu hal bagi saya "waktu dan moment" yang kemungkinan besar menentukan arahnya sendiri sehingga kami dapat berangkat di hari itu.
Tepat pukul 06.15 WIB, kami berangkat bersama-sama dari Stasiun Kota Malang, bukan dengan naik kereta api melainkan kendaraan darat lainnya. Sesampai di Surabaya, kami bersua dengan teman-teman lainnya, tak ayal sahut menyahut menanyakan kabar mendominasi suasana kendaraan di pagi itu. Waktu berlalu dengan cepat untuk mengantarkan kami ke destinasi pertama. Wingko Babat Loe Lan Ing (LLI) menyambut hangat pagi itu, sehangat 2 tungku didalamnya yang berisi api membara 😀. Disambut oleh Ci Oliv dan Ko Daud, kami diperkenankan melihat proses pembuatan Wingko Babat. Sebelum masuk dapur, kami diberi arahan oleh Ko Daud agar selama tour tersebut dapat berjalan lancar. Pintu pun dibuka, pandangan langsung tertuju pada bapak-bapak pekerja yang sedang "Macak" kelapa yang cenderung muda dan deretan ibu-ibu pekerja yang sedang membuat sale pisang serta membungkus jenang. Kami diperbolehkan menikmati jenang dan rasanya Enakkk 😋. Berbekal enaknya jenang tersebut, kami menuju dapur yang lebih dalam untuk menggali prosesnya. Di sisi kanan terdapat area timbang, dan tentunya bukan sembarang orang yang diberi tanggung jawab untuk duduk di singgasana kursi tersebut ya... Berjalan beberapa langkah, kami disuguhkan dengan mesin yang sedang mengaduk jenang ketan hitam. Belum selesai mengikuti putaran mesin, aroma wangi wingko mulai tercium dan membuat langkah ini masuk ke sumber aroma. Dua tungku besar dengan perapian yang menyala jingga menyambut kami, nyala api tersebut tidak muncul akan sembarang kayu namun kayu tertentu saja yang dipilih, seperti mahoni, klampis dan pelem. Nyala perapian tersebut diiringi dengan sibuknya para pekerja yang tengah mengeluarkan wingko dari satu tungku untuk dimasukkan ke tungku lainnya. Kenapa demikian ? karena dua tungku ini memiliki fungsi yang berbeda, satu tungku berfungsi untuk mematangkan adonan serta membuat browning di satu sisi sedangkan tungku lain berfungsi membuat browning sisi lainnya. Dan kembali lagi, kami diperkenankan mencicipi Wingko yang baru saja dikeluarkan dari Tungku kedua dan tentunya Enakkk, empuk, gurih, wangi dan panassss 😋.
Bertolak dari dapur, kami kembali ke arah Toko namun dengan sebelumnya melihat cetakan sablon kemasan lama Wingko LLI yang saat ini sudah tidak dipergunakan. Selama tour , kami mendengarkan penuturan bahwa Wingko LLI berdiri sejak 1898 dan resep Wingko Babat diciptakan oleh Loe Soe Siang yang merupakan ayah dari Loe Lan Ing dan Loe Lan Hwa. Loe Lan Ing bersama istrinya menindaklanjuti resep sang ayah dan membuka Toko di Babat sedangkan Loe Lan Hwa dan suaminya merantau ke Semarang dan membuka Toko Wingko Babat dengan resep dari sang ayah pula. Dari pernikahan Loe Lan Ing dan istrinya, lahirlah Go Kok Hien yang kemudian mengembangkan Wingko ber-merk Kelapa Muda. Wingko LLI saat ini dipegang oleh generasi keempat dan kelima. Dahulunya, Wingko LLI dijajakan di kendaraan umum yang melintas di jalan raya babat-bojonegoro namun saat ini Wingko LLI telah memiliki toko sendiri baik itu di Babat maupun Surabaya. Satu keunikan tersendiri adalah masa kerja dan asal daerah dari para pekerja disini yang sudah puluhan tahun. Salah satunya Pak Dasman yang berasal dari Blora, sudah bekerja disini selama 40 tahun. Senada dengan Wingko yang setia menjadi buah tangan khas Babat, kesetiaan para pekerja juga tergambar pada dapur Wingko Babat LLI.
Bertolak dari destinasi pertama dengan tentunya membawa seabrek Wingko Babat LLI serta buah tangan lainnya, kami menuju destinasi kedua. Polsek Babat, sebuah bangunan yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Berdasarkan dari foto tahun 1946-1948, bangunan tersebut adalah Rumah Sakit Lapangan Angkatan Laut. Dari segi gaya bangunan, diduga bangunan ini dibangun pada pertengahan abad 19-20. Polsek Babat terdiri dari 4 bangunan, bangunan utama yang berada di tengah area memiliki beberapa ruang dan tentunya dihiasi dengan apiknya pilar, lantai serta kusen. Dan ketika kita berhenti di teras belakang bangunan utama, terdapat pelengkung di samping kanan dan kiri serta tiang-tiang besi lama sebagai penyangga atap. Dari titik tersebut, kita dapat melihat sebuah bangunan memanjang di sebelah kiri kita menghadap ke bangunan utama. Bangunan tersebut dapat kita jumpai pula ketika kita masuk ke area Polsek Babat. Di sudut kanan kita berdiri terdapat sebuah bangunan pula yang saat ini difungsikan sebagai gudang. Melangkah ke arah kanan dari bangunan utama, kami terpukau dengan sebuah rumah kuno yang memiliki ubin, plafon serta pilar yang apik. Dan yang membuat kami takjub adalah terdapat sebuah makam yang diduga makam seorang belanda, tepat dibawah daun jendela kamar belakang. Namun, bukan saya jika tidak melihat suburnya tumbuh-tumbuhan di area tersebut, justru pandangan saya sempat tertuju pada rimbunnya nangka yang siap menanti masa kematangannya 😀. Menyusuri area belakang rumah tersebut, kami bertemu sebuah pintu yang mengarah ke makam belanda tersebut namun terkunci tentunya. Dan semakin ke belakang terdapat ruang-ruang yang tentunya tidak dipergunakan. Kami berjalan ke arah depan rumah, dan berbeda dengan bagian belakang, justru bagian depan jauh lebih terawat dan pada bagian kaca jendela serta pintu terdapat ... yang tidak kami temukan di bagian rumah belakang.
Beranjak dari Polsek Babat, kami menuju ke area yang berada persis di seberangnya. Rumah Capiten, dimana diduga Liem Khee Soen pernah menjabat sebagai Letnan di Babat pada tahun 1837-1855. Tidak banyak yang bisa kami ketahui tentang bangunan ini karena minimnya literatur. Namun, satu hal yang pasti yakni megah dan luas. Pada bangunan utama terdapat dua kamar besar dengan dihiasi tiang-tiang besar sebagai pondasinya. Tak ketinggalan dihiasi dengan ubin, emboss dinding pada setiap sikunya serta hiasan pada atap yang cenderung masih utuh, menambah keapikan bangunan tersebut. Sayangnya, akar beringin menggerogoti bangunan seolah mengatakan untuk bangunan tersebut tidak untuk dijamah. Disamping bangunan utama, terdapat sebuah bangunan yang memanjang ke belakang namun hanya setengah bagian yang masih terjaga karena bangunan tersebut saat ini dihuni oleh sebuah keluarga yang juga membuka kedai makan. Sebelum kami ke kedai makan tersebut, kami menuju Pos Koramil yang berada persis disampingnya dan di seberang Gedung Garuda. Pos Koramil tersebut saat ini kosong namun keindahan khas bangunan lama masih banyak yang terjaga dan akhirnya kami menyempatkan foto selfie sejenak karena indahnya spot-spot pada bangunan tersebut. Kembali ke kedai makan, kami dibuat terkesan, karena keluarga tersebut turut menjaga indahnya bangunan tersebut baik pada kebersihan lantainya yang bahkan masih sangat terjaga warnanya serta tidak merombak tinggalan dari bangunan tersebut. Panasnya Babat, membuat diri ini haus serta lapar, kami pun beristirahat serta mengisi perut ini dengan kudapan Nasi Boran di kedai tersebut dan tentunya menghabiskan es jeruk jualan si ibu pedagang 😀.
Dan hampir saja lupa, namun beruntungnya saya memiliki seorang kakak yang memberikan surga berupa kucing gemoy bernama Popo, ya,,, kucing milik ibu pemilik kedai berhasil saya uyel-uyel siang itu sebagai obat kangen pada majikan saya 😃. Meninggalkan dengan ketidakikhlasan meninggalkan Popo, kami beranjak berjalan ke arah Masjid Besar untuk beribadah. Takjub, bukan hanya pada megahnya Masjid ini namun, masjid ini sudah tergambar pada foto lama di tahun 1946 dan posisinya tidak berubah, serong dari ruas jalan. Setelah beribadah, kami berjalan di area sekitar masjid tepat di belakang Rumah Kapiten. Dengan menghentak-hentakkan tas menikmati semilir angin siang, si kakak satu ini berucap kalimat tentang keindahan dan langsung diamini dengan tatapan saya ke sudut kanan,, ya sebuah rumah kuno yang teramat cantik. Sontak, kaki ini berhenti dan mengamati satu persatu bagian. Latar bangunan rumah ini memiliki 4 jendela dengan kaca patri yang silih berganti warna baik jendela ventilasi maupun jendela besar dibawahnya, dua pintu mengapit jendela-jendela tersebut. Pada samping kiri rumah, terdapat sebuah gang yang mana pada gapura gang terdapat hiasan berupa piring yang turut disematkan. Kaki ini mulai memasuki rumah tersebut dan disambut oleh nenek penjaga rumah beserta anaknya. Ubin beserta kusen pada rumah tersebut masih terjaga keapikannya. Bagian dalam rumah terdapat beberapa ruangan diantaranya, ruang tamu, dua kamar tidur, ruang makan, latar belakang dan sebuah area untuk ART pada jaman dahulunya yang berada di sebelah kiri rumah namun dengan pintu yang menyambung sehingga rumah tersebut seperti berbentuk letter L mengarah ke jalan disamping rumah. Dan seperti rumah pada jaman dahulu, kamar mandi pada rumah ini berada diluar rumah. Terdapat 2 kamar mandi serta 1 dapur kotor di area sebelah kiri rumah yang jika kami masuk melalui gang pada awal tadi langsung bisa menemui kamar mandi serta dapur tersebut. Tatkala kami mengobrol kembali dengan nenek dan melihat foto dalam sebuah pigura disana, entah kenapa ada suatu yang tidak asing namun saya belum menemukan jawaban. Dan pada akhirnya sebuah jawaban telah ditemukan,,, nanti akan saya ceritakan di paragraf akhir 😊.
Beranjak dari rumah tersebut, kami kembali ke Masjid untuk beranjak ke destinasi selanjutnya, namun tatkala kami melihat sebuah rumah kuno, sang nona rumah mempersilahkan kami untuk berkunjung. Kami pun berkunjung ke rumah tersebut dan ternyata didalamnya menyimpan tiang-tiang kayu yang sudah berusia senja yang sampai sekarang kokoh menyokong bangunan tersebut. Kami sempat duduk dan bercengkrama dengan keluarga tersebut karena hangatnya sambutan yang diberikan pula. Jika bukan karena waktu, mungkin kami akan lebih lama berada di daerah tersebut.
Kami pun melanjutkan ke destinasi selanjutnya, Gudang Sembako yang berada di seberang Pasar Babat menjadi destinasi berikutnya. Terdapat 4 gudang yang berjejer pada area tersebut yang mana jika kita berada didepannya, fokus kita akan langsung tertuju pada emboss berbentuk kelopak bunga serta emboss lainnya yang teramat menarik untuk dilewatkan. Seperti Masjid Besar, Gudang Sembako ini telah terjabar pula pada foto lawas pula, dimana membuktikan bahwa Babat sempat menjadi daerah besar dalam perekonomian. Sepanjang perjalanan dari Gudang Sembako menuju destinasi selanjutnya, jajaran pedagang wingko dengan merk-merk lainnya mewarnai pandangan kami dan tatkala mendekati destinasi terakhir, Tugu Wingko menegaskan diri bahwa Wingko adalah sebuah maskot dari Babat, Lamongan.
Rumah panggung yang berada di sisi Stasiun Babat menjadi destinasi kami. Rumah panggung ini dahulunya adalah rumah dinas pegawai kereta api di Babat, namun saat ini dikontrakkan dan kami bekesempatan untuk berkuliner di salah satu rumah panggung tersebut yang saat ini dijadikan sebuah Cafe. Layaknya rumah panggung, tentunya ubin beserta dinding merupakan kayu. Cafe ini memiliki beberapa ruangan dengan disertai .... yang menyambungkan bangunan depan serta bangunan belakang. Kami menikmati sore di cafe tersebut serta untuk beristiahat sebelum akhirnya kami menyisir rumah panggung lainnya. Mencuri-curi moment, kami menuju ke stasiun babat yang pada fasadnya masih terlihat kecantikan bangunan lamanya serta eks depo KAI yang menyimpan gerbong kereta didalamnya. Namun, senja sudah memberikan sinar jingganya dimana menjadi tanda kami harus pulang.
Dan akhirnya, kami pun pulang menuju Surabaya serta Malang namun masih dengan menyimpan berbagai pertanyaan. Dimana salah duanya adalah apakah di Babat dahulunya terdapat Klenteng bahkan pecinan? Kemanakah orang-orang china Babat saat ini? Siapa sesungguhnya Letnan yang menjabat di Babat dahulunya? Siapa sebetulnya ketidakasingan pada foto rumah kuno yang saya temui? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.Perlahan ada beberapa jawaban namun kami masih terus untuk menggali. Semoga, ada semakin banyak literatur tentang Babat kedepannya 😊
Eits,,, cerita belum berakhir. Sesuai janji saya diatas, akhirnya salah satu pertanyaan sempat terjawab. Hal ini tidak lain adalah buah dari sebuah keikhlasan, mengapa demikian?
Sebelum saya beranjak ke Babat, saya menyempatkan untuk menghubungi mantan majikan dari kakek saya (bukan kucing lho ya, betul2 majikan)😆, yang mana yang selama ini kami ketahui Si Ibu adalah orang Babat. tentunya, saya menawarkan untuk membawakan Wingko Babat sebagai buah tangan dan disambut baik beliau, betul-betul ingin membawakan Wingko Babat karena pasti sudah lama beliau tidak pulkam. Wingko Babat sudah didapat dan kaki ini melangkah ke rumah beliau. Sesampainya disana, kami bercengkrama layaknya hari-hari besar kami bersua. Mulai dari bagaimana saya bisa bergabung dengan komunitas heritage hingga perjalanan di Babat sendiri. Pada suatu menit, saya bercerita bahwa saya beserta teman-teman menuju area di sekitar Masjid Besar tepat di belakang Rumah Kapiten, lalu beliau menambahkan informasi bahwa jalan tersebut bernama Kauman dan almarhum Suami beliau bermasa kecil disana, serta pada saat masa pernikahan sempat berada dirumah Kauman tersebut. Jalan Kauman , sebuah informasi yang sebelumnya jujur tidak saya baca. Saya pun melanjutkan bahwa saya masuk ke sebuah rumah kuno yang bagus sekali dan saya gambarkan bagian depan kepada beliau. Beliau pun ingin melihat rumahnya seperti apa, foto pun saya tunjukkan dan ternyata,,,, itu adalah rumah dari keluarga almarhum suami beliau. Sontak saya terkejut, dunia ini sangat tidak luas dan kembali lagi saya dipertemukan dengan orang-orang baik meskipun ditempat yang berbeda. Si Ibu menjelaskan isi rumah persis seperti yang saya temui tanpa saya memberitahu terlebih dahulu bahkan memberikan informasi-informasi yang ketika saya tanyakan kepada teman-teman adalah benar, dan mengingatkan saya kembali tentang posisi gang, ruangan-ruangan yang ketika saya ingat kembali adalah betul posisinya. Foto yang terdapat pada pigura pun saya tunjukkan dan ternyata sosok yang berada di foto tersebut adalah kakak pertama dari almarhum suami beliau yang mana saat ini "kagungan" rumah tersebut. Sungguh tak terduga bagi saya yang hanya bisa ternganga karena Tuhan menunjukkan memorabilia sebuah keluarga bagi saya. Dan tersebutlah bahwa ayah dari almarhum suami beliau adalah Seman Tirtohardjono yang merupakan Pedagang Sembako besar pada masanya, sedangkan Si Ibu sendiri adalah anak dari Pedagang Pupuk yang dahulunya memiliki rumah di sebelah Wingko LLI. Dahulunya, disamping rumah beliau sisi lainnya, terdapat pabrik es besar yang mana keluarga beliau diberi aliran listrik. Beliau menambahkan bahwa di samping Wingko LLI sisi kanan, dahulu terdapat Pedagang Palawija besar yang merupakan warga china. Semakin asik kami mengobrol, beliau menambahkan dimana pada masa kecil beliau, ketika perayaan Imlek akan dihiasi dengan Leang Leong, Barongsai serta lampion-lampion dan saya pun sempat bertanya akhirnya apakah ada klenteng dan pecinan di Babat? Menurut beliau, tidak ada daerah pecinan maupun klenteng, yang ada adalah sekolah cina (CHTH) yang berada didalam Gudang Kelom. Namun, dari sebuah informasi lain terdapat sebuah komunitas china sehingga kami pun masih akan mencari informasi tersebut. Disamping itu, saya pun menanyakan kemanakah orang china saat ini dan beliau menginformasikan banyak orang china yang pulang ke negaranya tatkala setelah kemerdekaan Indonesia dan disusul dengan peristiwa 65, Babat mulai ditinggalkan oleh orang-orang china. Begitulah kiranya secuil cerita siang itu yang dibungkus oleh memorabilia keluarga beliau, tulisan ini juga merupakan janji kepada beliau dan semoga dapat menjadi lepas kangen terhadap Babat, Lamongan.
#heritagebabat
#heritagelamongan

Komentar
Posting Komentar