Perjalanan siang itu dimulai dengan mengunjungi Istana gebang, yang mana dahulunya merupakan rumah orang tua Presiden Soekarno. Rumah tersebut dibeli dari kepemilikan C.H. Portier yang telah dibangun sejak tahun 1884. Menurut cerita warga, terdapat Stasiun kecil (halte) yakni halte Gebang yang merupakan pemberhentian Presiden tatkala pulang ke Blitar. Saat ini halte tersebut ini dijadikan tempat jual beli (Pasar Mini) oleh warga sekitar. Istana Gebang berada di kawasan Bendogerit, di kawasan inilah dibangun tempat tinggal untuk orang-orang Eropa. Tidak hanya tempat tinggal namun dibangun pula beberapa fasilitas publik seperti Hollandsch-Inlandsche School ( HIS ) yang sekarang menjadi SMAK Diponegoro dan Gereja Katolik Santo Yusup yang diresmikan pada 18 April 1931.
Tatkala memasuki Gereja Katolik Santo Yusup, pandangan langsung
terarah kepada atap yang berbentuk lengkungan-lengkungan dari berbagai sisi dan
mengerucut disisi tengahnya, yang jarang ditemui di tempat-tempat lain. Di
lantai 2 Gereja, terdapat tempat untuk paduan suara dan gamelan. Setiap 3 bulan
sekali pada minggu ke-5, ibadah menggunakan Bahasa Jawa. Pada sisi atas Gereja,
terdapat 2 lonceng, yang mana lonceng tersebut diletakkan di tahun 1935.
Lonceng tersebut sampai saat ini masih aktif dibunyikan pada jam 6 pagi, 12
siang dan jam 6 malam. Pada hari biasa hanya 1 lonceng yang dibunyikan, dan
pada misa kedua lonceng dibunyikan. Beralih ke sisi depan Gereja Katolik Santo
Yusup, terdapat sebuah Taman Rekreasi yakni Taman Rekreasi Kebon Rojo. Dahulunya
area tersebut merupakan laboraturium untuk uji coba penanaman berbagai tanaman dimana diperkirakan sudah ada sejak 1890. Ada sebuah versi yang
mengatakan bahwa Kebon Rojo berasal dari, “Kebon” yakni kebun sedangkan “Rojo”
yakni penguasa daerah tersebut, hal ini dikarenakan letak Kebon Rojo tersebut berada di
belakang Rumah Dinas Walikota atau Burgermesteer Blitar. Namun versi lain
mengemukakan bahwa, Kebun Rojo adalah seperti kebun raya bogor.
Menyusuri Kawasan Bendogerit,
terdapat sebuah SD Katolik Santa Maria yang ternyata pada sejarahnya tempat tersebut merupakan sebuah
Biara yang diperuntukan sebagai tempat tinggal para suster. Berdekatan dengan
SDK tersebut, terdapat Tempat Makam Pahlawan (TMP). Sebelum menjadi TMP, area
tersebut merupakan tempat latihan tentara PETA yang dilatih oleh Jepang untuk
menghadapi Agresi Militer. Didalam TMP sendiri terdapat Monumen Potlot, monumen
tersebut merupakan saksi bisu pertama kali Bendera Merah Putih dikibarkan pada
Februari 1945 oleh Sudanco Parto Hardjono. Namun pemberontakan tersebut gagal
karena informasi pemberontakan telah bocor ke pihak Jepang dan sebetulnya
ditentang oleh Soekarno karena dirasa belum siap untuk kemerdekaan.
Beralih dari TMP dan tepat di
depannya, terdapat sebuah Monumen Daidan PETA. Dibelakang monumen,
terdapat komplek sekolah yang aktif sampai dengan tahun 2020. Ex komplek
sekolah dengan luas 4 hektar tersebut saat ini sedang proses untuk dijadikan
Museum PETA. Menelusur jauh ke dalam, selain terdapat bangunan2 sekolah, juga
terdapat 2 bangunan kembar, 1 bangunan berplakat 1910 dan satu lagi berplakat
1911 sebagai tanda dibangunnya bangunan tersebut. Pada jaman Belanda, bangunan tersebut diperuntukkan menjadi OSVIA dan kemudian
menjadi H.I.K dan MULO pada 1920, dan setelah kemerdekaan menjadi STN. Area
tersebut juga dilengkapi dengan barak kesehatan dan asrama. Dikarenakan pada
jaman dahulu biaya penerangan mahal, maka 1 lampu digunakan untuk menerangi 2
ruangan. Di sisi belakang bangunan terdapat kompor besar yang digunakan belanda
yang sampai saat ini masih utuh. Dari sekian ruangan, terdapat sebuah ruangan
yang disinyalir sebagai tempat shodancho soeprijadi melakukan rapat rahasia dengan
anggota PETA membahas tentang pemberontakan. Pada saat pemberontakan PETA,
terjadi baku tembak dengan Jepang dan sampai saat ini masih terdapat bekas atap
yang berlubang2 dan bekas jatuhnya peluru di bagian tegel dari peristiwa
tersebut. Mitosnya, ketika tentara PETA kalah, komplek tersebut dijadikan tempat eksekusi
tentara PETA oleh Jepang, baik eksekusi sengatan listrik/setrum listrik maupun
penggal. Ada yang mengatakan terdapat bagian belakang gedung
namun masih dalam Ex komplek sekolah, terdapat sebuah penguburan masal untuk
para korban pemberontakan PETA yang saat ini tertutup oleh sebuah bangunan.
Berjalan ke arah barat dari
tempat tersebut, berdiri bangunan yang luas dan tertata dengan apik, Normaalmeisjeschool
yakni diperuntukkan sebagai sekolah untuk menjadi guru perempuan. Saat ini
menjadi UM 3. Berlanjut dari tempat tersebut berjalan ke arah selatan, terdapat
sebuah rumah yang didepannya terdapat plakat yang menerangkan peletakan batu
pertama pada 17 Juni 1907, yang berdekatan dengan bangunan tersebut berdiri
GPIB eben hezer yang diresmikan pada 9 maret 1932. Yang menjadi unik pada gereja
tersebut, terdapat jendela kasa tertutup pada atap lengkungnya dan sesek bambu
bagian atap lengkung tersebut masih terlihat teksturnya. Dulunya, diatas atap
lengkung terdapat genteng kaca sehingga cahaya matahari dapat masuk menerangi
gereja namun dikarenakan atap kaca pecah sehingga atap tersebut diganti genteng
biasa.
Perjalanan berlanjut ke arah barat,
berdiri sebuah bangunan dengan pilar besar dan tinggi yang sejak jaman Belanda memang
diperuntukkan menjadi Pengadilan kota blitar. Plakat yang terdapat pada
bangunan tersebut merupakan plakat renovasi pada tahun 1971, namun bangunan ini
sendiri telah dibangun pada tahun 1930. Pada masa belanda, pengadilan tersebut
difungsikan untuk mengadili warga Pribumi dan warga Asing non Eropa. Namun mempertimbangkan
Belanda selalu efisien untuk biaya, Pengadilan tersebut difungsikan sebetulnya
untuk semua warga, hanya saja pembagian waktu persidangan saja yang
berbeda-beda. Tahun 1989/1990 merupakan tahun terakhir pengadilan tersebut
beroperasi, sebelum akhirnya dikosongkan karena berpindah ke tempat baru.
Berjalan ke arah tengah kota,
tepatnya jalan Merdeka, dahulu terdapat sebuah Bioskop “Dipajana” dengan gaya
bangunan new bowman indistyle versi minimalis (streamland). Namun saat ini
bangunan tersebut sudah sepenuhnya tergantikan dengan modern store. Tidak jauh
dari tempat tersebut, Komplek Alun-Alun Blitar dengan tata letak perpaduan
konsep alun-alun majapahit dan eropa.
Di bagian timur terdapat Penjara,
bagian utara kantor bupati/pemerintahan, bagian barat yakni tempat ibadah dan
selatan yakni pasar (pada jaman dahulunya, saat ini menjadi kantor walikota). Keunikan
lain di alun-alun blitar ini yakni kawanan burung kuntul putih bertengger pada
setiap pohon beringin. Ini menunjukkan bahwa Blitar memiliki ekosistem yang
tergolong baik. Burung- burung kuntul tidak hanya bertengger di area tersebut,
namun juga berterbangan pada jalan menuju klenteng sepanjang sore hari. Langkah
ini sempat terhenti di Klenteng, namun sayang, klenteng blitar tidak dapat
ditelaah lebih dalam karena sempat terbakar habis dan saat ini sedang
pembangunan kembali.
Kami melanjutkan perjalanan ini ke karanganyar.....
Part 2
#heritageblitar

Komentar
Posting Komentar